"Pada waktunya ada masa di mana kita telah lelah berjalan, dan seketika memimpikan untuk terbang. Pada garisnya ada titik di mana kita merasa telah terlampau jauh pergi, dan lantas hanya menginginkan satu hal: pulang."
|
|
 |
|
|
 |
|
|
|
 |
pintu maya sajak-sajak
SN Mayasari H |
|
 |
Tuesday, March 25, 2003
ANGKA 6
waktu itu jam enam petang. ada yang berdentang enam kali
di lengan kiri. arloji warna merah hati. tik tak detiknya
terasa begitu perih. membalap detak nadi. denyut jantung
yang berlari. sehabis sebuah ledakan di sudut negeri.
menghancurkan enam rumah, enam sekolah, enam gedung mewah,
enam tempat ibadah. dan keluargaku sudah tak utuh lagi. tak
berjumlah enam lagi. ibu bapa telah mendulu pergi. pada jam
enam lewat enam menit. petang itu. di hari keenam peperangan.
aku sudah bosan sembunyi. jam enam petang ini kotaku bergetar
kencang. tak ada lagi ketakutan. serangan memang sering datang
menjelang malam. di jalan aku menabur doa doa. bersama enam
sahabat yang tersisa. tiba tiba enam peluru panas berdesing
di atas kepala. bercampur suara parau kami memanggil manggil
kekasih. aku tersungkur jatuh pada seruan keenam. dada lubang.
darah muncrat. masih kudengar sayup adzan di nafas keenam
sebelum akhir. sebelum bibir memucat pasi. sebelum mati. waktu
itu lewat jam enam petang. tak ada lagi yang berdentang di
lengan kiri. arloji pecah beriring nadi yang henti membuncah.
Yogyakarta, Maret 2003
8:26 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
TAK ADA SAJAK UNTUKMU
berhentilah mencari. tak ada sajak untukmu di jariku.
di benak di mata di dada di hati di selangkanganku.
aku sudah di pelukmu. apakah guna barisan kata kata?
sementara tak henti kita bercinta. mabuk bersama.
menari dalam telanjang.
kau beri aku cawan anggurmu. mengkhusyukkan birahiku
padamu. tak bisa berpisah lama. maka dekaplah rinduku.
nafsu yang bisu. tak ada suara tak ada kata kata tak
ada sajak untukmu.
berhentilah bertanya. cinta kita cinta yang diam.
kepayang di tengah sunyi. demikian menyatu seperti
harmoni gerak tari. sepi.
Yogyakarta, Maret 2003
2:32 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
Sunday, March 23, 2003
Memori Rumah Pada Secangkir Kopi
:TS.Pinang
sekerat kenang silam lahir kembali di mata puisimu. bergetaran
tak tentu. dadamu menyembunyi guratan rindu. kau menyelam
mencari tentram di secangkir kopi. tapi gayamu meraciknya
menculik dirimu pada memori tentang rumah. tentang ibu bapa.
kumpulan sesobek warna sejarah lama. dan mata itu kian meredup
sejak senja lalu. sejak anak anak burung beramai pulang ke
sarang menjemput ibu. maka apa ditunggu? istana masa kecil
mungkin sekarang mesti dituju.
(agar tak banyak senja lewat tanpa tanda)
Yogyakarta,Maret 2003
7:50 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Saturday, March 22, 2003
AMERIKA VERSUS IRAK
sama dengan duka
laki laki mengangkat senjata
para wanita mendulang air mata
anak anak menabung luka
di bawah pecahan tanah nganga
bersama kuburan saudara yang tiada
siang berubah garang
malam mencekam
kumandang adzan berseling ledakan
rasa kecewa berserakan di jalan
sama dengan duka
dua negara menenggelamkan cinta
antara barisan tentara
dan pasukan keranda
cita cita kandas di kepala
seorang bocah memimpi superhero segera tiba
ah! mungkin salah iraq tak mencipta
tokoh pahlawan yang bisa membela
atau juga paman sam yang lebih meng-alien
daripada menjadi superman seperti dalam cerita
sama dengan duka
membiarkan bayi menangis berlama lama
Yogyakarta,Maret 2003
8:18 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
SEPUCUK SURAT DARI KORBAN PERANG
di sini begitu panas, dik
matahari mengganas
kota terbakar di suara tembakan yang lepas
barangkali beruntung para tuli dan buta
tak mendengar jerit tangis saudara
atau melihat cecer darah ibu bapa
aku tak ikut berperang, dik
dua kakiku sudah seminggu hilang
oleh ledakan di suatu siang
sekarang waktuku habis untuk berdoa
juga merawat sekuntum bunga
peninggalan terakhir sebelum pergimu
tapi ia sedikit layu
dik,
di sini tak ada hujan rintik
hanya kusegarkan dengan air mata
Yk,Maret 2003
7:58 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Thursday, March 20, 2003
SENTILAN MUNGIL UNTUK PENYAIR
(ada secarik kertas setengah tertimbun pasir
di depan kakinya. sempat kuintip satu dua kata isinya.
ialah sajakku. tentang mimpiku menghutankan padang.
menelagakan tanah kerontang. merimbunkan gersang. dan...)
tiba tiba dilemparkannya ranting patah ke arahku
seorang anak kecil setengah terburu
itu tulang belulang ibu bapa ku
lalu sebutir kerikil
dan itu makanan saudara saudaraku
untuk apa nama besarmu
menggendong bayi puisi yang sengaja kau lahirkan sungsang
seperti ilusi pesona pada topeng topeng usang
harapan di pintu gerbang, tapi akhirnya hilang
danau masih tetap kerontang
tanah belum lepas dari bau amis darah
raga para fakir telah kehilangan nafas gairah
pepohon menggundul punah
mana Kalimantan itu?
kata katamu telah menjelma kutukan purba
penguasa tetap saja tak mendengar apa apa
maka jangan bicara dengan pena!
lantangkanlah suara!
kali ini sehelai daun hijau ditiupkannya ke wajahku
itulah aku! menampar dinding lamunmu
baru saja aku sempat membuka mulut dan berseru
"hei..."
langkahnya menjauh tinggalkanku
kau penyair hanya bisa bermimpi!
Yogyakarta, Maret 2003
5:31 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
KUPU KUPU DI TAMAN
kupu kupu, di taman menyandang bisu
menciumi bibir merah kembang soka
seorang gadis kecil mulai gelisah di bangku kayu
rindu kepak sayap pelangimu
seperti kemarin dalam mimpinya
ia guratkan tarianmu pada barisan sajak cinta
tumpah dari kalbunya
(sarang segala rindu)
matahari telah membidik istanamu
menganga para kelopak sembulkan mahkota ragam warna
di kepala bunga, cawan cawan mungil
mengendapkan madu dan berkata: adalah kami untukmu
kupu kupu di taman tentulah mengerti
gadis kecil yang menangis karena cintanya
menabrak sepi
harapan kikis, menjelma tanya dan duka dan benci
keindahan mungkin telah renta
atau terlena
atau tidur
atau bahkan lupa
untuk terbang menebar wangi bahagia
kupu kupu, di taman melipat sepasang kerapuhan
dan membatu
gadis kecil gigil dihempas angin tiba tiba
"tunjukkan padaku tempat berselimut, hai pesona"
(tapi ini bukan taman bersama
ini dunia tempat kupu kupu beradu kekuatan
yang menjadikannya serigala di belantara)
"mungkin lusa aku terbang menolongmu"
gadis kecil mencoba bertahan
dari kecewa tak berkesudahan
dilihatnya lagi istana warna itu
sebelum berlari keluar taman
tanpa ucapan selamat tinggal
kupu kupu, di taman mengedipkan mata
menepis angin
ke tepi tepi pagar besi
di sampingnya, mahkota soka dan cawan madu
menunggu hirupan penuh nafsu
kupu kupu, di taman berloncat loncatan
dua sayapnya telah demikian tersia sia
Yogyakarta, Feb 2003
5:25 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
Tuesday, March 18, 2003
JIKA SERIGALA DAN KANCIL BERTEMU (SEBUAH DONGENG TELEVISI),1
tak perlu lagi bersetubuh
(kalau kau sudah terlanjur menempuh,
tinggalkan saja ranjang panas itu sekarang
sebelum peluru melepuhkan masa depan)
tak perlu lagi bersetubuh
dunia telah tahu
jika serigala dan kancil bertemu
maka sprei ranjang akan segera terkoyak lebur
serigala punya cakar dan taring tajam
bahkan bulunya dapat menjadi duri duri kejam
tak perlu lagi diteruskan
pertemuan ini hanya melahirkan keresahan
tak ada persetubuhan cinta, tapi pemerkosaan
dada menabrak dada, paha melingkari paha
peluh dan darah di lantai berceceran
kepuasan tak dikenal di pengakhiran
tak perlu lagi diteruskan
aku bosan tontonan kejalangan
serigala atau kancil yang menjemput mati
aku sudah sulit untuk peduli
sementara para singa di singgasana
malah tampak mulai terbiasa
menikmati dari balik meja
ah! matikan saja televisi
dan mulai berpikir untuk mencari makan hari hari
anak anak telah demikian kelaparan
tidurnya memimpi sepiring nasi
Yogyakarta, Maret 2003
JIKA SERIGALA DAN KANCIL BERTEMU (SEBUAH DONGENG TELEVISI),2
tak perlu lagi dilanjutkan
serigala dan kancil mesti cepat cepat dipulangkan
dipulangkan. bukan dikandangkan
perhatikan juga arah perjalanan
sebab muaranya tak sama. tak bisa sembarangan
(kancil masih butuh banyak membaca
sedang serigala bertugas menjaga rimba)
meski begini, tak menjamin anak anak kami kenyang
tapi setidaknya bisa sedikit tertawa
karena dongeng ibu sekali tak bercerita duka
Yogyakarta, Maret 2003
9:23 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Wednesday, March 12, 2003
TENTANG PENYAIR
kaukah laki laki itu, yang mereka panggil penyair
yang telah berhasil menaklukkan sekeping hati milik
perempuan sepi. membawa bait bait sajak sebagai
salam pinangan. lebih memabukkan dari sebotol bir
di jajaran rak penjualan.
kaukah itu, membuat mata perempuanmu memancarkan
warna baru. tak dicintainya lagi bunga bunga taman
atau plastik di vas kaca. hanya barisan kata kata
ciptaanmu terawat rapi di bingkai dinding kamar berdua.
dan anakmu mengibar bendera bertuliskan kebanggaan:
ayahku seorang penyair! teman temannya hanya bisa
terpana. melihat anakmu belajar berhitung dengan
gaya yang tak sama. ada bahasamu di sana. bahasa
puisi tentunya.
tapi dirimukah yang berdiri di depannya kini, tanpa
tutur kata. bahkan saat ia menyapa. malah semakin
kau tundukkan kepala. penyair, mengapa bisu di muka
cahaya?
Sleman,Yk. Feb 2003
9:44 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Wednesday, March 05, 2003
KAU DAN AKU MASIH PADA SENDIRI
bersamamu, waktu itu kuinginkan lautan
menjadi kertas
tempat aku kamu menuliskan puisi
kubayangkan langit adalah misteri cinta
dan kita menemu demikian liarnya kata kata
berebut ruang di perjalanan pena
perahu.perahu.perahu
ialah pena itu
jari jari kita menjadi dayungnya
"tapi aku lebih suka menari" katamu
perahu pecah menabrak karang
ruhmu kian jauh melayang
meninggalkan jasadmu yang bergelinjang
mabuk dalam tarian yang tak kumengerti
malam perlahan mati. cakrawala lenyap
ditelan laut memeluk langit
kau dan aku masih pada sendiri
saling menanti
Yogyakarta, Feb 2003
9:21 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
PERSETUBUHAN CAHAYA,1
mataku kian mati dalam kedip yang berkejaran
waktu kau datang menaiki ranjang
wajahmu ialah matahari yang membunuh kelam
kuanggap saja kau ingin bersenggama
dalam terang.
saat mulai kau buka bajumu
tanganku melesat menutupi mata ini
remang kamar serentak berganti cerlang
tak ada celah kegelapan yang kurasa
bisa lebih mengundang birahi keintiman.
dari celah jari kuintip dirimu
yang setengah telanjang
dan akan membuka celanamu
"jangan"
cemas ini membuatku surut
meninggalkanmu sendiri di atas ranjang
"mau kemana?" tanyamu
"aku belum sanggup menyatu. sekarang
biar kucintai saja dirimu"
kaupun berangsur hilang
malam kembali pekat
aku tersungkur di lantai hitam kamarku
:kurasakan kau berkali kali menabrak
dadaku. menembus ruang lemahku
Yogyakarta, Feb 2003
PERSETUBUHAN CAHAYA,2
malam ini bukan malam kemarin
tapi kau lagi lagi menidurkan aku
di pangkuan kelam
membacakan kisah para nabi,
sahabat dan musuhnya
juga nama nama yang bahkan mengejanya saja
aku tak bisa.
dan ceritamu malam ini bernasib sama
seperti yang sudah sudah
bagiku hanya semacam hujan yang singgah
di jendela kamar
mengetuk ngetuk debu di kaca
lalu pergi tanpa tanda.
aku pun tertawa
sebab malam ini berakhir serupa
seperti biasanya
deras gairah birahi menghanyutkanmu
ke gua sunyiku yang terluka. di atasnya
tak lagi ada cericit anak burung
hanya erangan gagak merobek malam
dan kakinya menendang nendang titik embun
menjadi pergulatan di tengah kegelapan.
masih kau lanjutkan perjalanan liarmu
menembus rimba seraya
membidik bulan di kepala
busur panah telah terlepaskan
bintang bintang berguguran
menimpa gerai rambutmu yang basah oleh peluh
pendakian ini tak pernah membuatmu letih
belati terjulur dari matamu
menguasai jiwaku
di bukit bukit cahaya mengurungku.
jasadku tergolek di pangkuan pagi
samar suaramu mengiang
mengisahkan pengembaraan semalam
"malam ini kita akan melakukannya lagi"
aku gemetar bangun
membayangkan persetubuhan nanti malam
sedang tak pernah berhasil kutangkap kau
di mataku. hanya kisahmu menyisakan jejak
di balik dada: seberkas cahaya. cahayamu
Yogyakarta, Feb.2003
9:12 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
KETIKA MALAM TAK LAGI MENENANGKAN
duduk di muka cermin tak lagi ada kebanggaan
:sebelum lelapku. bayangan diri menantang
garang dari rautnya yang keriput
sumringah yang ciut, senyum kecut,
dan dua purnama telah kian tersundut
wajah ini lebih sebagai gumpalan kabut
menutup cerahnya hari pagi
memejam mata menjadi ketakutan tersendiri
:bentangan layar mimpi bercat merah darah
gambaran para jiwa lain yang dulu terlukai
membalas maki dalam tikaman
mata dan belati di balik punggung tersembunyi
mimpi bukan lagi bunga tidur yang dicintai
dan diundang menghampiri
berhening di atas sajadah tak menggetarkan lagi
:masjid di hati meranggas di surut iman
kolam dzikir telah berhenti mengalir
malam kehilangan maknanya
dirasa terlampau panjang, merapatkan
perahu waktu ke sandaran
perjalanan kelam demikian lambat dalam diam
renungan sudah tak suci lagi
mengutuki jarum jam menyusun langkahnya satu satu
pagi menjadi buruan hari hari. malam adalah
mimpi buruk yang menakutkan, mengingatkan
pada mati. tak lebih
pada saatnya malam tak lagi menenangkan
hanya semacam rayap menggerogoti tiang kayu
tetes air melubangi badan batu
atau bagai dedaun yang gugur bergiliran
menuliskan peringatan: tak lama lagi waktumu
o raga, kita menua di pengembaraan
usia telah demikian kurus
dimana penunjuk jalan pulang?
menemu malam yang lengang
Yogyakarta, Feb 2003
8:55 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
|
|
 |
 |
2003 © S.N. Mayasari H.
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih
terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com
|