"Pada waktunya ada masa di mana kita telah lelah berjalan, dan seketika memimpikan untuk terbang. Pada garisnya ada titik di mana kita merasa telah terlampau jauh pergi, dan lantas hanya menginginkan satu hal: pulang."
|
|
 |
|
|
 |
|
|
|
 |
pintu maya sajak-sajak
SN Mayasari H |
|
 |
Wednesday, February 26, 2003
Leukimia
tahun lalu telah mati
hari hari penanggalan lama bergiliran pergi
jalan sendiri sendiri
membubarkan diri dari bingkainya
aku menyimpan bangkai kisah perjalanan lampau di dinding kamar
kugantung kencang. menyematkan mimpi mimpi hampa
"kalau bisa waktu kuhentikan di sini"
tapi ilusi harus mundur
tinggal kenangan menjadi kabar kabur, kabar kubur
waktu kau buang kalender dari dinding kamarku.
"januari yang indah" katamu
membuka lembar pertama kalender baru
"sisa umur yang resah" kataku
angka satu di kertas terasa menebar debar
lalu kau menghitungi waktu dengan jari
"enam bulan lagi kekasihku kembali"
dan kau lingkari badan juni dengan cinta
kuguratkan tanda tanya pada tubuh mungil mei
"ada apa di sana?" tanyamu
"kekasih mungkin akan menjemputku"
sejenak kita hening menatap lukisan di kalender:
musim semi. matahari jingga. sehelai
daun muda putus dari dahannya.
wajahnya pucat namun tampak rela.
pohonan di sekitarnya menitikkan embun embun di pucuk. barangkali sebagai tanda air mata.
Yogyakarta, 10.02.03
10:46 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
BILA WAKTUNYA AKU HARUS PERGI
barangkali adalah saatnya kata kata undur diri
kulihat kau juga telah tak ingin bersuara
bunyi dedaun bergesekan jadi terasa begitu ramai
di halaman rumahku
desah angin berebut hening dengan detak jantungmu
yang berdansa di ujung gelisah
bila waktunya aku harus pergi
kutinggalkan bagimu selembar kertas putih
kali ini tanpa sebait sajak atau pesan kecil
seperti biasanya kuberi untukmu
cuma kekosongan catatan kenangan kau dan aku
lupakanlah. atau kuburkan pada hembus angin
yang menerbangkan burung burung malam
pada saatnya jejak jejak duka akan hapus
karang gayam 83E,Yk, 14.02.03
PERPISAHAN
---untuk seorang wartawan (HA).
satu sajak setengah jadi melamun di benakku
kata kata entah telah terbang kemana
ke udara atau tertinggal di hatimu
perpisahan ini tak ditandai oleh pelukan
hanya senyum canggungmu
mungkin karena waktu tak sempat merekam sua kita
di balik dada: gemuruh derai, ledakan guntur, kilat, dan rintih gugur
dedaun
terpaksa diam diam kuredakan
sampai pesanmu datang mengejar laju kendaraan
"hati hati di jalan. tampaknya langit tengah menahan tangis."
beku jari dan tubuhku
di sini tangis sudah tak terbendung
yogyakarta, 09.02.03
HUJAN
bola mataku beku dihempas derai
mendingin hawa tatapanku
ratusan titik jatuh menabrak celah celah lubang teras batu
aku gugu
sesekali senyum dalam lamunku yang khusyuk
seperti jatuh cinta
gigil bumi tak membuatku surut bersembunyi
apalagi berniat pergi
riuh nada buliran seolah membunuh sadarku
gambaran mimpi ramai berebut menuhi hati
percik percik menampar wajah teras
bagai ikan ikan berloncatan kegirangan
saling silang
menyemburkan cinta dari mungil mulutnya yang terbuka
kutangkap pesan damai di sana
seperti lukisan pagi pada jernih air telaga
dengan puluhan anak ikan yang berkumpul mesra
di bawah daun teratai
bicarakan cinta
Yogyakarta, 04.02.03
10:44 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Wednesday, February 12, 2003
SAMPAI PADA TITIK
I.
sampai pada titik itu
kutegakkan lembaran surat di depanku
lalu aku menjelma api
menjalari kata kata, huruf huruf yang menipu
juga lukisan wajah indahmu
II.
dinding apakah menghalangiku
hingga tak sampai kupahami hatimu
melumatkan sunyi ini sepanjang waktu
jarum jam yang berjalan pada bingkai palsu
Yogyakarta, 31.12.02
BISU ADALAH PINTU YANG TERBUKA UNTUKKU
batinku terpuruk di hari yang kuyub
hujan menghabisi tiap jengkal sisa sinar mentari
yang lekat di dedaun tumbuhan, di batu-batu, di hatiku
'tika tak ada sisi bumi kurasa mampu nentramkan resah kalbu
bisu adalah pintu yang terbuka untukku
di sana aku jatuhkan ratusan air mata
hingga tergenang isi seluruh jiwa
di atap rumah kepak gagak tampak begitu perih
dan semakin jauh meninggalkanku
menyisakan dera
Yogyakarta, 23.12.02
ENGKAUKAH ITU
engkaukah langkah itu yang berjalan ke arahku
menendang nendang sepi terjuntai dari sela jari tanganmu
hingga tak kau peduli becek tanah rambati dua kakimu
engkaukah hati itu yang membiru karena cinta
sebuah ketakutan akan kenangan lama
hingga pecah sebongkah batu ketegaran pada
tetesan luka nganga
engkaukah tubuh itu yang menawarkan sandaran
untuk aku tuntaskan letih kerinduan
dan menjawab setiap usang pertanyaan
engkaukah sayap itu yang kelak memeluk sukmaku
engkaukah cinta itu yang menyelesaikan tualangku
engkaukah itu kekasih hidupku
Bontang, 04.12.02
KETIKA AKU BICARAKAN CINTA
maka menjelma di hatiku taman bunga
seperti kala dari kasihku puisi rindu kuterima
mata menjelma tatapan kanak tak berdosa
seiring nafas lupakan tarikan luka
jiwa menjelma keluasan langit semesta
di sisi para hati kusuguhi naungan mesra
Bontang, 03.12.02
KETIKA RINDU DI JIWA TELAH BERWARNA BIRU DAN MELUKA
kupeluk doa,
menangis di dadanya
Yogyakarta, 25.01.03
2:12 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
JELAJAHKU PADA CINTA SEORANG PENYAIR
:ns
kusentuh lembutmu bagai cerlang lantai kaca
mengacakan wajah langit senja.
diratusan gugur daun musim semi
kutemu sendu suaramu mengeja sajak sunyi.
tatapanmu jauh, membunuh sakit jangkauku
yang terus coba memburu
denting arah langkah nafasmu.
ini lenganku.
silakan kau titip setumpuk sajak dan letih
hingga tertutup buku perjalanan hidupmu
yang biru, putih, hitam, merah nyalang, berpadu.
berlapis lapis waktu kujelajahi dirimu.
cintamu terlampau luas untuk sebuah penjara dekap.
Yogyakarta, 28.01.03
SURAT DOA
barisan doa itu ia sebut surat
"surat cinta"
setelah selesai sembahyang, dikirimkannya surat itu
ia titipkan pada kilat
yang menyambar menjadi penghubung langit dan semesta
lalu ia mengaji di samping lelapku yang gigil subuh itu
berikut ajakku naik menuju pintu
terbang sukmaku-sukmanya
di tengah terpaan deras hujan yang jatuh sejak semalam
sambil terus ia tengadahkan dua tangan
dan mulut tak henti alirkan lagu firman
membentuk doa baru yang takkan pernah ia titikkan
membubung tinggi, menjelma tangis haru, menderu seru, dan akhirnya diam
"semoga tak lagi aku menjadi lelaki yang menyulam duka.
demikian kau, perempuanku"
Yogyakarta, 28.01.03
MELANGKAH MENUJU SATU
setiap jam dinding berdentang dua kali di malam hari di kamarku
kudirikan masjid di sini di hati sendiri
salammu pun menjadi harapan yang menyala
menemuiku kala aku kibarkan bendera bendera doa
pada tiang sembahyang
jika surya menggeliat di cakrawala timur
di antara dengkur para jiwa yang tidur
akan kujadikan cinta sebagai angin sebagai belai
untuk kulayarkan sajadahku
di samudra jingga menjadi perahu antarkanku menuju pintu
jika telah habis masa perjalanan darahku
dedaun gugur pohon pohon tumbang dalam layu
menyerahkan dagingnya pada cacing cacing waktu
yang siap memberangus
maka kutinggalkan rumah singgahku di belakang
seraya kukembalikan tubuh dan ruhku
pada yang memiliki tiap rentangan sajadahku
Yogyakarta, 29.01.03
2:08 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
Saturday, February 01, 2003
APA DIBALIK MATAMU MENATAPKU
mata ini, bertanya apa yang dibalik matamu menatapku
bisunya senyumku, dingin sentuh, cair cinta,
terkurung mata mencariku
dimanakah ia?
cercah cahaya di sana tak kujumpa
lagu lagu nasyid kosong terasa
gemericing petikan tasbih seperti mati
tak dikenal. lantun kalam atau kisah sejarah Quran
terjemahan begitu langka kudengar
apa yang dibalik matamu menatapku?
adakah sajadah atau masjid di beningnya
betapa aku rindu jawaban.
Yogyakarta, 30.01.03
DIMANA PINTU YANG TERBUKA LEBAR
dimana pintu yang terbuka lebar
aku sampai pada gerbang tapi hanya sebuah rumah
dinding tanpa celah menungguku di hadapan
"masuk. masuk"
entah siapa yang bersuara
lalu aku terbaring jatuh pada serambi kumuh
kulihat tangan dan kakiku lumpuh
mulutku bisu telinga tuli bahkan
tak sempat kudengar sendiri denyut terakhirku dari
jantung yang berhenti
hanya cairan otak dan ledakan hati memberontak dadaku
dan berseru:
dimana iman diri yang menjadi kunci?
Yogyakarta, 30.01.03
DI BATAS WARNA DIRI YANG BERGANTI
sudah cukup bicara tentang bulan tentang sinar remang
juga kerlip bintang bintang
atau kerumunan burung malam yang menyusun jerit
menjadi nada nada lengking nanar perih di tengah kegelapan
usaikan pula suara menyerukan gumpalan
awan putih yang kau sebut rambut kekasih
aku rindu menghampirinya
yang memiliki rembulan sinar terang
atau kerlip bintang redup
aku damba menemuinya
yang memiliki tiap kepak sayap sayap gagah gagak
dan rapuhnya kupu kupu
ingin kudengar madu kata tentang cintanya dari mulutmu
dan bukan tentang sepasang mata yang kau sebut purnama,
sekeping hati yang kau namakan samudra,
tubuh hina yang kau panggil sebagai matahari
aku mimpikan tidur di pangkuannya
yang memiliki segala letih dan kantuk ini
Yogyakarta, 30.01.03
9:40 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
|
|
 |
 |
2003 © S.N. Mayasari H.
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih
terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com
|