"Pada waktunya ada masa di mana kita telah lelah berjalan, dan seketika memimpikan untuk terbang. Pada garisnya ada titik di mana kita merasa telah terlampau jauh pergi, dan lantas hanya menginginkan satu hal: pulang."
|
|
 |
|
|
 |
|
|
|
 |
pintu maya sajak-sajak
SN Mayasari H |
|
 |
Sunday, January 26, 2003
TAK SANGGUP AKU MENAKAR SAYANGMU
di pojok nestapa aku khilaf mendosa
seperti barisan lumut di pagar besi tua:
aku melupakanMu tanpa malu malu
mencari setapak liar hembuskan nafsu:
mengabaikanMu
aduh! Kekasih
kenapa tak langsung tikam aku
dengan tajamnya tatapan mataMu
malah memaafkanku
I'TIKAF-TAWAF
di atas sajadah memetiki tasbih
tundukkan hati! tundukkan hati!
jari jari ini masih tersandung di tarian puji puji
hanya bisa meraung lagi
tidurkan nafsu! tidurkan nafsu!
kenapa aku lemah sekali
ini di masjid, Tuhan di sini berhimpit
petiklah tasbih dengan hati, bukan jari
kuterbangkan jiwa di antara basmalah
sambil terus menggelitiki butir butir puji
mengirimkan tanya pada Ilahi
"apakah telah Kau jawab setiap mohonku dari sini?"
tapi seisi rumahMu tetap sunyi
hanya sebaris angin berbisik:
"kau yang buat rumahKu sepi. sangat jarang menemui."
DI PINTU RINDU
di pintu masjid aku bersila
menyeru rindu lewat gemulai tasbihku
senangku, susahku, lukaku
mengantarkan ke puncak rinduku padaMu
susah benar tirai pemisah Kau dan aku
terbuka
aku belum mampu mengucap "ana al-haq" seperti
Al-Hallaj dan Hafiz
aku bersimbah darah merinduiMu sedang cinta
tak hadir jua di dada?
DATANG KAU DALAM SAJAKKU
bila rangkaian kataku belum mampu
memaksaMu bicara
ya Kekasih
tapi sepiMu malah memabukkanku
atau setidaknya kuintip istanaMu: Jannah
andai aku selayak sajak sajak sufi
yang kepadaMu ya Kekasih
bukan lagi hanya merindui
tapi telah dalam hati Mencintai
mungkin sajakku mampu menampakkanMu
----------------
9:20 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
PADA HARI PERTAMA
seperti kenangan mengejarku yang kembali datang
kurasa matahari kota kecilku turun begitu kencang
di pelataran ufuk timur subuh ini
melayukan setiap bunga tidur manusia
dari sergapan anak sinarnya di antara bulu bulu mata
yang masih rindukan belaian hangat peraduan
seperti tercekatnya darahku pada dinding hati yang terbakar
kudengar tetes embun menitik putus berganti di luar kamar
ditingkahi kumandang adzan samar samar
alam belum lagi siarkan suara kehidupan
hanya radio sendiri di sisi mendendangkan lagu lama
ngelangut sukma gali kuburan kisah cinta
yang melapuk di papan masa
seperti rantai mengikatku yang ingin berlari
merendah angin pagi jerat satu satu langkah kaki
mengajakku bertahan
sementara kubunuh kejam kala benih siluet wajah seseorang mulai menyapa
dan kulelapkan pikirku
nikmati lukisan pagi tanah kelahiranku
di sisanya kelam terusir kilau fajar
di hari pertama
:ragu membuka mata
Bontang, 25.11.02
DI TENGAH DERAI HUJAN
huruf huruf berloncatan
di tengah derai hujan
menyusun
kalimat rindu
yang kesunyian
kelelahan
terlukai
waktu menahun
tebalkan
dukana
tak sanggup menahan
hasrat
peluk tegap tubuhmu
seperti dulu
di tengah derai hujan
dan air mata
kata kata berterbangan
berserakan
sepanjang jalan
darahku
menyusun
sehelai kerinduan
selembar kesedihan
kelelahan
dari pena kesetiaan
menanti pulangmu
di tengah derai hujan
sepucuk cinta surat
kutuliskan
kukirimkan
Bontang, 27.11.02
CATATAN DARI KAMPUNG HALAMAN
ada danau di kalbuku. menggenangkan resah. bermain anak anak ikan di keluasan hijaunya. timbul tenggelam. sembunyikan kepala dari sambaran paruh burung angkasa menyentil permukaan. lahirkan lingkaran lingkaran mungil badan air. aku hanyutkan diri ke dalamnya. berharap temui lagi makam kenangan indah kisah lalu. masa kecilku.
:'tika kuhabiskan sore di tepian bergenggam lamunan. saat kepulangan.
ada rimba di hatiku. menyesatkan dukana. berjajar pohon pohon tawa sepanjang jalan. rantingnya menyunggingkan senyum sekilau sinar surya. dedaun terbitkan embun kesejukan di jiwa. aku hempaskan tubuh di gugurannya. berharap hadir lagi mimpi mimpi meneduhkan malam.
:'tika kulintasi jalan kota tanah kelahiran bergandeng sisi anak anak hutan.
Bontang, 29.11.02
YOGYA-CAIRO, SEBUAH SAJAK CINTA
--buat AM
di jaraknya rindu kita kian melata.
berbincang di langit Ilah, di tiap sholat yang lima
sejak kau putuskan pilihan pada hatiku
dan menamakan cintaku muara pencarianmu.
aku jelajahi badan samudra
dengan perahu doa berlayar angin surga
memetik sebutir mutiara pada kedalaman airnya
kilaunya menjadi pagar setia
dan kubawa pulang bagimu kelak bersua.
di rentang masa asmara kita kian meraja.
Bontang, 30.11.02
DALAM SEBUAH PENGEMBARAAN
dalam perjalanan sebuah pengembaraan
secarik kertas doa kuselipkan di jiwa
mengaji di tengah sunyi yang sendiri
berkawan setia angin tiupan
meminum tetes hujan yang basahi hati
bersujud aku di sajadah rumputan
Bontang, 01.12.02
SEORANG LELAKI DI BAWAH MATAHARI
seorang lelaki di bawah matahari
membawa bunga harapan cita
janji pada keluarga. janji pada gadisnya
:kekasih yang menanti di pisahan samudra
seorang lelaki di bawah matahari
berjalan dengan kaki taqwa
sandarkan rindu pada bisunya piramida
'tuk segera tiba di pintu sua
nasihat ibu bapa. pelukan mesra cintanya
:kekasih yang tersimpan di dada
Bontang, 02.12.02
AKU BERLUTUT PADA WAKTU
--buat AM
hatiku karam di laut penantian. letih renangi panjangnya masa kembalimu. tak sabar lunaskan gairah yang membakar kalbu. gemetar rindu. di antara runtuhan cemasku. makin berkaca kaca mataku. menggusari penanggalan dan hari hari.
jiwaku tenggelam di arus dukana. apakah lagi yang bisa kunikmati selain mimpi mimpi terangkai menjadi puisi malam hari. berkisah tentang cinta kita yang dilahap rentang sepi. beku tangismu dan tangisku.
di sini, aku berlutut pada waktu
Bontang, 02.12.02
MENJAGAI KELAHIRAN SANG JINGGA
--buat AM
aku menjagai kelahiran sang jingga. pada langit kelam yang terbuka. dan gemawan kapas mulai rapi tertata.
o, mungkinkah desir dada ini sampai ke negeri kekasihku berada?
menyampaikan sua rindu yang tertunda tunda
di balik amuk hasratku pagi ini timpakan kecup mesra baginya.
Bontang, 03.12.02
9:12 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Kepada Engkau Yang Tak Bicara
kepada engkau yang tak sanggup bersuara
karena dibutakanNya mulut dan telingamu
sejak mula kau rasakan angin semesta
kepada engkau yang tak berani bicara
karena dipasungnya kaki dan tanganmu
dalam ancaman keselamatan bagimu yang mereka tentukan
menjadi ketakutan untukmu menentang kuasanya
kepada engkau yang membuang jasad sendiri
ke lubang lubang kebisuan
karena tak kau temukan yang bernama keadilan di sini
meski telah habis masa kau jelajahi sampai di perkuburan
pergilah ke hutan hutan keberanian
dengan kau kendarai cahaya kejujuran
bergerak melalui tiupan angin keabadian
dan mengalirlah kukuh di lubuk lubuk gelombang
kekuatan hati manusia
lalu petiklah matahari di atas telaga
untuk kau bawa mengalahkan kezaliman mereka
dan jadikanlah sinarnya sebagai saksi di depan pengadilan Ilahi
Yogyakarta, 10.11.02
Sebab Bisumu
karena engkau diam
membiarkan mereka berpesta di rumah dukamu
meminum darah dan memakan dagingmu
bahkan lalu dilemparnya jasadmu ke laut laut kehinaan
karena kebisuanmu
memberikan setiap mau mereka
hingga kau yang semestinya disayang
harus meluluhlantakkan tubuhmu di kubangan kubangan kenistaan
yang kau buat dengan tanganmu sendiri
karena aku mencintamu
karena aku melihatmu dan anak anakmu
memainkan belatung di luka nanah kaki kaki sendiri
menanak bebatuan untuk kau bunuh rasa lapar berhari
sambil kau buka lebar mulutmu
sekedar meneguk tetes embun pagi
menidurkan dahaga yang entah sudah seberapa parah keadaannya
izinkan aku bertamu ke ruang hatimu
menggandeng semangatmu untuk meraih sebuah kebebasan
izinkan kuajak lagi kau menyusun harapan
dari mata mata kuyu di wajahmu
yang telah mulai enggan berdoa
Yogyakarta, 11.11.02
Menjual Wajah Sendiri
kau berlari panik mencari wajah sendiri
pada cermin cermin kebeningan air telaga
di purnama tubuh sintal sang dewi
di coretan coretan tangan anak anak
yang lama terlelap setelah memberi salam "selamat malam" padamu
bahkan di dalam puisi yang tumbuh dari batang batang jemarimu
tapi yang kau jumpa wajah wajah samar milik mereka
bayangan topeng asing yang memakai namamu
tapi kau masih saja berlari
seolah tak sadar akan kebebasanmu telah pada mereka terbeli
Yogyakarta, 11.11.02
Ikutlah Aku dan Biarkan Mereka
biarkan mereka lewat dahulu.
takkan kau kubiarkan terlihat oleh mereka
sebab dirimu kuletakkan di kedalaman puisiku
suara gaung dari gunung jiwa kita
yang meronta natap ulah kejam mereka
kau tentram bersamaku di kesunyian nurani.
biarkan mereka berlalu dn melaju.
takkan kuberi mereka waktu menoleh padamu
sebab terlalu suci engkau
menerima lirikan nafsu mereka. maka
kukunci bait bait sajakku
hingga satupun darinya tak sekali mampu mencapaimu
kau tenang beriringku di keteguhan nyanyi hati.
biarkan mereka berjalan di jalurnya.
tinggallah engkau denganku
mendirikan menara menara keluasan jiwa
dan naiklah sekalian kamu ke puncaknya
untuk kau pantau tiap langkah mereka
yang berada di depan tapi mengusung nama atasmu
serta lemparkanlah sebungkus maafmu bagi khilaf mereka
atau taburkan kerikil teguran bagi kekeliruan mereka
sambil kau ikutkan sekerat doa dari pandangmu
Yogyakarta, 11.11.02
Untuk Sebuah Kebencian
bukan warna warni bendera itu yang kau benci
tapi mereka
bukan istana itu yang menjadi marahmu
melainkan kelalaian mereka
namun mengapa kau bakar pelangi di amukan api kalbumu
menghanguskan rintik yang jatuh di dua cekung pipimu
dan kau matikan cahaya kilau rembulan malam
yang memberi tanda padamu bahwa tak semua
gemawan kelam menyajikan mendung
ia berharap masih dapat kau menyusun kepercayaan dan harapan
bahwa matahari muncul esok pagi
Yogyakarta, 11.11.02
Sebuah Potret di Bawah Salib Kayu
pada dinding kamar
ada yang mengawasi
gerak gerik
dukamu
sejak ia pergi
dan mimpi mimpi
tak datang lagi
menyapa tidur malammu
masih saja kau renungi
pada dinding kamar
potret yang tergantung bisu
di bawah sebuah salib kayu
berwarna coklat tanpa debu
(selalu kau usap dengan hatimu)
terbangkan lagi ingatanmu
ke masa lalu
tanah basah yang mengurung jasad papamu
beratap gerimis kecil
siang itu
Yogyakarta, 14.11.02
Gambaran Senja di Malioboro
(catatan 13.11.02)
yang kurasa bukan lagi seperti biasa
:bau menusuk tubuh kuda, asap pekat kendaraan padat,
atau panasnya udara di kulit
hanya nafas berdua tergesa milik kita, menyentuh panca indera
yang kudengar tak serupa hari lainnya
:ringkik dan tapak kuda, deru mesin di jalan berlomba,
atau bunyi langkah manusia yang tumpah di sana
hanya renyah tawa dari mulut kau dan aku, menyapa kota
kukecup cakrawala, mencari salam terakhir matahari
tapi sunyi
barangkali telah terkubur kabar senja
atau hilang di antara dinding dinding plaza
cuma terdengar kumandang adzan maghrib
dari masjid yang tak kelihatan di mata
pada kita menjadi cerita
Yogyakarta, 16.11.02
9:08 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Negara dan Doa
langit masih mainkan perannya
bermisteri dan bisu
mendengar setiap tanyaku
namun malah dihujaninya aku dengan pertanyaan nurani
tentang negeriku yang riuh berkelahi.
bapaku dengan ibuku
paman dan bibiku
saudara dan kawan kawanku
bahkan mata dan hatiku sendiri.
tetap tak mampu ku menjelaskannya
pada matahari yang membakar tanahku
atau langit malam tak melahirkan anak anak bintang.
antara masjid dan gereja bumi
di tengah doa doa aku berdiri
dan tersungkur di atas lutut gemetar
lupa tasbih tak kenal rosario
hanya merah putih sepuh kupangku
sampai mati.
Yogyakarta, 08.11.02
Zaman Setan
masa bergulir laju
sekencang peluhmu
deras setelah kau berlari menuruni bukit bukit
pencarian cinta hakiki Ilahi
perjalanan yang entah kapan mencapai henti.
manusia tertatih tatih
ikuti zaman yang menjelma wajah wajah setan
menakuti para hati kelemahan
bersembunyi di balik batu batu
di belakang patung patung
di dalam rumah beton dan pagar kawat bersusun beling
manusia dikawal anjing.
rumah rumah Allah garing
ceramah ulama terasa basi
kemarau iman
melanda bumi.
siapa lagi yang kau bisa panggil orang orang sholeh di sini?
matahari dan bulan telah dibidik
dan mereka telanjangi
bagai seekor singa memangsa anak rusa di hutan rimba.
Yogyakarta, 08.11.02
Untuk Sampai di Tujuan
mencari tahu akan diri ini
harus kukuras hati membaca buku harian sendiri
hal ihwal hari hari
yang tertulis rapi di bahu kanan kiri.
membaca rindumu belahan jiwa
mesti kuuji kesetiaanmu menangisi sepi tanpa persuaan
cengkrama malam hari
dan senyum bimbang kala kau kutinggal pergi.
meraih bentuk cintaMu ya Robbi
ternyata aku tak dapat hanya menunggu
karena menujuMu adalah tugas perjalananku
mengayuh kaki dengan keringat, dan darah, dan tawa
sampai tiba di gunung cintaMu.
Yogyakarta, 08.11.02
Perjalanan Sunyi
akhirnya kupilih jalan sunyi
untuk mengejarMu
menerawang di angin malam
tanpa kucampuri hembusan nafas hidupku
yang terbatuk batuk
tersandung langkah kaki sendiri.
kulintasi kelam perlahan lahan
agar tetap mulus langit cintaku
tak terkoyak tajamnya duri dosa dosa
menyemburat dari dalam dadaku.
akhirnya aku jelang diam diam
menempuh pendakian cakrawala
dengan kebisuan
ke surga tempat Kekasih pertama membentuk tubuh bapaku.
di tangan satu puisi kusembunyikan
dari kepalsuan dan noda hitam diriku
kelak pada Tuhan 'kan kuhadiahkan.
Yogyakarta, 08.11.02
Menggulung Peradaban
waktu menjelma gelombang
terpa badan kehidupan
menggulung peradaban.
surau mengumandangkan adzan
di depan para santri
ulama bercerita tentang mati.
dunia terlampau ramai
orang orang rindukan sepi
penyair menjual puisi.
Yogyakarta, 08.11.02
Kutempuh Jalanku
aku lebih suka berdiam diri di sini
mengerami sepi. melahirkan puisi dari erangan mimpi mimpi
yang bagai langit Ilahi
sudi tampung segala tanya, duka, suka dan galau hati
meski adanya hanya bisa kupandangi langit langit kamar ini.
aku lebih tentram lelap di rumah sendiri
mengkhusyukkan diri. tegakkan tiang sembahyang dengan
iman dan ikhlas suci
untuk kulewati helai rambut penyebrangan menuju jannah
meski nyatanya harus terdera guntur dan ombak nafsu kefanaan.
maaf. jangan paksa aku masuki duniamu.
biar kutempuh jalanku. seperti kubiarkan kau dengan jalanmu.
Yogyakarta, 08.11.02
9:03 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Puncak Rindu
telah kukirimkan dukaku pada kelam. pada langit malam.
tempat Kekasihku bersemayam.
bermuat ucapan selamat malam. selamat jalan luka.
kau kulupakan kini.
sambil kusisipkan sebuah nama di sana.
maka tak lagi aku nikmati akan tarian duri.
hanya tinggal hati selalu mendahagakan sang muara cinta.
muara segala doa.
duhai Allah, biru ini milikMu satu. telah kucapai Kau puncak rinduku.
Yogyakarta, 07.11.02
Senantiasa Pagi Bicara Padaku
bintang timur; membunuh kantuk yang menari di pelupuk mengirimkan harapan
seraya bertanya sudahkah engkau tersadar akan sisa umurmu
yang hanya sejarak darah dan urat nadi. ajalmu
nyanyi burung; menyajikan cinta tak berputusan
sambil berkata kasih Tuhan bagimu silakan kau simpan
hingga kematian menjadi bagian di genggaman
senantiasa pagi bicara padaku di awal persapaan
masih kususun zikir harianku yang susah sekali meruntut
imanku, amalku, ikhlasku, telah seberapakah berlagu?
Yogyakarta, 07.11.02
Peristiwa Menjelang Bedug Maghrib di Bulan Ramadhan
perjalananku berhenti di sebuah makam sepi
sementara para pengendara masih disibukkan antri
menyetubuhi badan jalan
setengah tertutup warna warni dagangan sajian pembuka puasa ramadhan.
kesunyian merasuki kalbuku
melangkah jasad masuk ke halaman rumah peristirahatan
menyapa para pendahulu
yang masih menanti dalam sempitnya liang lahat.
seluruh nafasku tercekat tiba tiba
atas teguran seekor cacing tanah menelusuri jari kakiku
"kau kutunggu" sapanya
kubawa berlalu ragaku saat itu.
(tanpa terasa dadaku menelaga air mata)
kutinggalkan heningku di pemakaman
ketika bedug bertalu
dan adzan dikumandangkan di masjid masjid
perjalananku berakhir di kamar sendiri; untuk saat ini.
Yogyakarta, 07.11.02
Cintaku Sekuntum Melati
cintaku adalah sekuntum melati
tumbuh menyepi di halaman rumah Allah
tempat para hamba menapak langkah kaki meneguhkan sembahyang.
cintaku adalah yang tak pernah mati
sebagaimana anak anak negeri menumpah darah seluruh
demi sebuah nama kemerdekaan.
kini di sini di muka masjid
aku berdiri putih tanpa mengenalkan duri
bertanya pada hati sendiri akan ibu pertiwi dan kesejahteraannya
yang melangka.
Yogyakarta, 07.11.02
8:59 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Satu Malam Bersama Yunius Irwanto dan Roni
:kpd teman teman Fak.Theologi UKDW Yk
jadilah hujan sebagai saksi
penyatuan tangan dan hati
membuat kita tahu
ia adalah lukisan indah milik bersama
terpatri
mungkin sampai masa menculik kita satu satu
mungkin sampai langit membuka pintunya bagi jasad bertiga
mungkin sampai kita menjadi sarjana.
tak kita peduli buliran air menabrak kelam di luar kamar
membasuh mulut mulut cinta
berteman rintik kita bicara
tentang sunyi, toleransi, puisi, persahabatan juga Tuhan
makin erat jemari berpelukan.
sinar bulan menjelma lewat titik titik cahaya lampu
kita sepi. meneliti pikiran sendiri
berhenti pada jarum jam meja yang mati
kitab kitab terbuka lebar di sisi
dan patung yesus tergantung lekat di dinding putih.
(aku melilitkan tasbih di lenganku)
malam larut di senyum kita.
ketika itu saat tiga hati bertemu dalam serasa; cinta.
Yogyakarta, 01.11.02
Kau ke Gereja, Aku Memulai Puasa, Mereka Entah Kemana
:dari sebuah perbincangan
lalu setiap kita pun diam
mungkin lebih baik begitu
karena sudah terlalu banyak dedaun berguguran di usia muda
ranting ranting terluka dan patah tanpa menyandang nama
tak perlu lagi menumpuk kotoran di halaman rumah sendiri.
paling tidak kita punya satu langit yang sama.
semua tunduk dan mengangguk. kita lega.
meski mereka memberi nama agama
sementara kau dan aku menyebutnya pakaian. sekedar pakaian.
tapi kita sepakat demikianlah bumi adanya. sarat warna.
semua tertawa dalam bentukan cinta.
lalu kau beranjak ke gereja. aku memulai puasa. mereka entah kemana.
Yogyakarta, 03.11.02
Rinduku: Gadis Penari Kalimantan
jangan putuskan lagumu. kala aku memberimu hatiku. yang gagu.
rindu padamu. rindu kotamu. rindu pulaumu.
maka kunikmati lemah lembut gerakmu. gemulai lentik tanganmu.
yang kurasa; telah kusunting cintamu. dan lekuk tarianmu kuajak bersenggama di paruh waktu.
jangan asingkan senyummu. karena ia nenangkan galauku.
yang teringat ibu bapa di tanah leluhurku.
biarkan kilau manik membalut tubuhmu. menarilah. menari untukku.
biarkan gerimis malam menyapu setiap perbedaan.
lupakan keriuhan negeri untuk sewaktu. lupakan aku yang tak seasal denganmu. teruslah menari. hanya untukku.
kita tak mesti selalu setia. pada rahim ibu. pada suku suku.
yang kumau kau menari untukku sepanjang sepiku.
Yogyakarta, 02.11.02
Menjelang Kepulangan
telah dapat kurasa terik matahari Kalimantan
pulau cintaku. di kecamuk dadaku
disaat terakhir kututup koporku.
(menutup juga rinduku yang kelelahan. terlampau lawas meninggalkan)
banjir kembali hati oleh kenangan masa lalu
kisah cintaku. luka yang tak padam di kalbu
dari kota kecil di timur Kalimantan. lahir segaris ragu
panas darahku menepis kesedihan dulu
disaat terakhir kututup koporku.
(untuk menemuimu. tanah kelahiranku)
Yogyakarta, 03.11.02
8:56 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Ketika Semua Bicara Tentang Bom Bali
ketika semua
bicara tentang
bom bali
:koran pagi menulis rintih manusia di sana
dari gambaran sebuah luka nganga
aku dikenyangkan oleh kabarnya
menjadi sarapan pagi
menjadi santap siang
menjadi keakraban sajian malam
bangsaku mulai mengenal maki
ada yang tak urung mengutuki
lelaki sibuk bertanya tanya
para wanita masih saja menguras air mata
kawan kawanku riuh angkat bicara
sementara di kamar seorang bocah terlelap dalam lelah
ibunya mendongengkan dukana bali
ketika semua
bicara tentang
bom bali
aku diam
Tuhan,
aku
cuma ingin menulis surat padaMu
Yogyakarta, 26.10.02
Aku Bicara Tentang Aku
apa yang kau lihat?
kamu. katamu.
lalu menangis aku di hadapanmu.
sesenggruk isakku
tercekik sengal nafasku
pecah dadaku
merinding kuduk seluruhku
matamu pun janggal melihatku. kenapa?
aku bukan aku. jawabku.
lalu? tanyamu.
aku adalah secuil dari Tuhan.
Yogyakarta, 26.20.02
Aku Bicara Tentang Aku 2
aku bicara tentang aku
adalah;
satu tubuh yang mengendali nafsu
menentukan corak bumi di tanganku
satu suara yang bicara pada Kekasih
tanpa batasan atau perantara
juga pakaian (telanjang aku)
sebongkah tanah bernyawa
yang di langit bersama Cahaya
bercinta dan tertawa (padu. aku dan Kamu)
aku bicara tentang aku
dikala goyah
hilang arah
aku kembali bukan lagi pada nama agama
tapi padaMu
seketika
Yogyakarta, 26.10.02
Sajak Untuk Sebuah Cinta
----buat Nanang.S
ia ada pada laki laki itu. seutas cinta. menjadi siluet bagi mata.
bagai kemuning bunga padi di sawah. tumbuh merendah.
pancarkan senyum emas sekilau cahaya surya. tapi tak banyak tangan mampu menggapai. terhitung hati mengerti rahasia moleknya. mungkin tidak juga gadisnya.
sementara masih saja ia bersandar lengkung di tanah pedesaan. begitu sederhana.
ia adalah cinta tanpa kata kata fana. suci tersimpan. tenang terpelihara.
ia ada pada laki laki itu. seorang yang tuntaskan tualangku.
dengan jasadnya yang tak terjamah. rayu batinku menuai rindu.
kian menyembunyi. remangkan hati. meski tak padu cintanya jelas di kalbuku.
dengingan sendu. betahkan ku terus membaca. setia menunggu.
Yogyakarta, 29.10.02
Sajak Kala Hujan
gemeletuk
pada suatu yang paling dalam
seketika jiwaku
saat gerimis menyapa halaman rumah
setelah kemarau panjang.
dingin udara
insan di jalan membuka dada
kaki kaki berlari mengejar teduh
tangannya mengusung doa doa
syukur padaNya.
aku mencipta permenungan
di kamar sendiri
membaui tanah basah sore ini.
gelegar kilatan langit
hentak tarian rohku
untuk mainkan pena segera.
hujan mengurungku
makin deras alir sajakku
-masuklah aku ke dalam rumah rumah mimpi.
Yogyakarta, 30.10.02
Apalagi Yang Kau Minta
setelah seluruh waktuku kau ikat melingkari lenganmu
setelah letih jasadku kau lekatkan sebagai bayanganmu
mulutku kau kunci hingga ia menyenandungkan lagumu
hanya lagumu. lupa diri sendiri.
dan langkahku patah mengikut kaku rantai kuasamu
sampai habis nafasku.
mataku berkabut tatapanmu.
apalagi yang kau minta dariku?
Yogyakarta, 27.10.02
8:50 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Saat Kulihat Pemuda Itu di Masjid
rumah Allah berwarna karenanya;
pemuda berbaju koko dan peci
membentuk maghribnya di satu masjid
hening tak berkawan
tegap tubuh tangguh menampik gaduh
lengang tak berlawan
tegas tangan tawarkan perjabatan
rumah Allah berkilau karenanya;
pemuda berwajah sederhana
menyusun senyum sekilau kilaunya
Yogyakarta, 22.10.02
Saat Kulihat Pemuda Itu di Masjid 2
masih diteruskan sholatnya
saat kulihat di masjid petang itu
ia membangun dua sujud
yang tak terukur khusyuknya di mataku
sejenak suara jiwa menguasai diriku
:pada dialah kuimpikan bagi cintaku
Yogyakarta, 22.10.02
Sajak Tengah Malam
embun malam berkejaran di daun. menitik titik.
dan aku sampai di denting awal jam dinding. gemerincing nyaring.
saudaraku lelap di kasur masing masing. mengundang mimpi.
menarik selimut disingkap kaki.
rembulan tak banyak bicara. hanya melirik tajam bintang bintang.
yang bergumul di peraduan gemawan. birahi cinta.
mungkin iri melihatku dicium Kekasih pada batas kegelapan langit.
di atas sajadah yang kubawa serta. alas tidurku.
Yogyakarta, 27.10.02
Bentuk Cintamu Dalam Ruang Rinduku
----buat Nanang.S
seperti bunga putri malu di tepi jalan
menyempit mekarnya. mengatup tersentuh
kedip matanya yang ungu.
demikianlah hatiku
nyimpan kerinduan berpaut ragu.
padamu.
meski kau jauh dariku
wangi tubuhmu mencapaiku. salamnya begitu syahdu.
seperti terakhir kita bertemu di kotamu.
lalu mengalir rahasia kisah dari mulutku. di telingamu.
diam diam ia mengetuk pintu jiwamu. dan kupetik senyum itu.
semanis wajah gadismu yang kutahu. seanggun kerudung putih kasihmu.
aku mengukir malu yang cemburu.
tiba tiba aku begitu yakin pada naluri kalbu
pencarianku berakhir di sahaja cintamu.
melangka kurasa sekian waktu. tapi kudapatkan darimu.
tentu kau ingat cerita cinta lama ku bukan?
kau mengangguk di depanku. aku tahu, katamu.
dan lebih kusua kesederhanaan milikmu. jatuh hatiku.
natap purnama yang telanjang di atas kepala kita.
semua telah usai, bisikku. kau terharu.
seperti anak yatim yang merindu bapanya
begitulah aku denganmu. bersampul jarak.
namun semakin kau terasa menyatu. menguasai ruang rindu cintaku.
terlebih malam ini. saat angin mati. dan embun di luar bersiap diri.
suaraku pilu untukmu: telah kau pilih yang satu.
(kemarin kau sempatkan bicara "tak apa kau mencintaku". maka kutulis sajak ini dalam biru)
Yogyakarta, 27.10.02
Ketika Kabar Kematian Itu Tiba
kabar kematian itu tiba hari ini
mengisahkan dirimu.
matahari pun lenyap dari pandangku
sejenak senja. sejenak terasa malam. mengoyak dada.
dan kini; jarum waktu henti berlari
deru jalanan mati seketika. cuma kumandang adzan di masjid sayup sayup
benakku menyepi. tangan kaki membunuh diri.
(sesunyi waktu dulu kuucap cinta padamu)
tapi masihkah akan kau bayangi aku?
seperti kemarin. sehela nafasmu tak kau lepas diriku.
sampai kabar kematian itu tiba
menculik jasadmu
Yogyakarta, 27.10.02
Pada Khotbah Pertama
----buat YI
mungkin telah lengkap
perjalananmu
saat sampai kau di sana menumpahkan makna makna.
di depan; jemaah menyodorkan senyum tertahan
kala tepi tepi mimbar basah oleh peluhmu.
di luar; gerimis jatuh menitiki sela sela jendela
layu dedaun bangkit berwarna hijau muda
bergesa ingin beri salam padamu.
seketika kau rasakan matahari tiba
di atas kepala
di atap gereja
di ratap doa doa
seketika denting lonceng mengiang di telinga.
dan bayang papa hadir lagi di mata
kelebat rindu. kelebat minggu.
dalam khotbahmu yang pertama.
Yogyakarta, 27.10.02
8:47 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
Tuesday, January 14, 2003
TASBIH
dalam memetiki butir tasbih
apa yang mesti kukatakan, Tuhan
menyebut satu satu kebesaranMu
aku tak kan mampu
menghitungi nama namaMu
aku pun tak hafal
saat ini sekali lagi
di dua lewat tengah malam
kuputuskan untuk bicara sama
seperti kemarin
dalam memetiki butir tasbih
cuma "Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahuakbar" yang kuulang ulang
Tuhan, Kau benar
aku tak cukup pintar
Yogyakarta, 26.08.02
SAAT MERINDU 10
pagi hari berfajar emas
kusketsakan wajahmu di batas cakrawala yang tergeli
digantungi kaki kaki mentari
menusuk sekujur tubuhnya di langit timur
dan kupanggil camar satu satu
dari intipan tirai jendela kamarku yang berkaca kusam
uzur menunggu waktu tuk menemu dirimu
kuajak mereka melagu rindu bermusik embun pagi
pada sintalnya pinggul kunci G piano tuaku
bila aku menjemput datangmu?
sampai kemarin peron stasiun kota masih nyeringai lihat langkahku
menyapu deritan rel terinjak kereta yang melambat di depanku
tak bosannya kukupas gerbong demi gerbong memuntahkan para penumpang turun dari perut panjangnya
namun tetap ia tak membawamu dari sana
hanya setia mengangkut kenangan di hatiku
tentang kamu
bila aku menyatu rindu denganmu?
Yogyakarta, 01.09.02
Matahari Retak
-buat TS.Pinang
waktu itu temanku berkata:
"satu kaki mentari itu tak utuh lagi berdiri
menusuk kulit mulus bumi"
dan cuma menunduk yang kubisa
selama mungkin
sambil terus membelai gerai panjang rambutmu
yang bermain di anak pikirku
upaya redam hatiku tak urung menyebut namamu
dalam rindu nan kecewa
masih seperti kemarin,
kujumpa kau nikmati tatapan bintang malam satu satu
yang tanpa ragu menawarkan senyumnya
bagi rahasiamu di peraduan
kau pun berlagu; agungkan sepi
sahabat yang selalu ada dan terus kau bawa
"inilah kasihku", katamu
(saat itu kuyakin kau hanya mencinta dirimu saja)
sedang aku menumpuk mimpi tentangmu
sempat kulukis sketsa lama 'tuk bisa beriring melaju
namun kini tinggal kelu
kecupan mesra sebuah bintang tlah merebut jasadmu
duhai, matahariku
lebih kupilih tetap renungimu dari kejauhan jarak
dari sepanjang hari kusetubuhi cintamu yang samar
dan biar, setiap mata menyajikan harapan atasmu
meski kau tak mau tahu
Yogyakarta, 20.10.02
Kutunjuk Kau Jadi Matahariku
-buat TS.Pinang
kubiarkan bayang pertamaku tentangmu meliar
mempermainkan akalku
sedang kau jauh, berjalan tanpa menoleh padaku
kunikmati tebaran cahaya pesona itu
seluruhmu
sebermula namamu terhembus ditelingaku
telah kau kutunjuk jadi matahariku
dan lupakan,
hatiku yang gemuruh bagai ombak cabuh
mendatangi pantaimu
dan lupakan,
mimpiku yang patah bagai arus laut dibelah musa
mengundangmu masuk dalam rayuku
hati ini, masih saja sendiri
tak perlu kau pendar tangan cintamu
sebab rasaku telah rapi kutata dibalik gemawan mendung
sikapmu yang beku
jangan lemparkan sauh,
tak sekarang ku menambatnya
pastikan dahan kepalsuan itu patah
kelak aku kan menanti di bawah reruntuhan daunmu
(bukan kupinta cerita lama atau kedipan mata bercinta,
tapi waktu yang dapat membawamu kembali sepenuh arti)
Yogyakarta,20.10.02
4:27 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
KEPADA ISTRIKU DI RANJANG
setelah kita bertengkar kulihat kau kelelahan dan terlelap
di atas ranjang tubuhmu terpejam dan berpaling dariku
aku mengintipmu malam ini
tampak guratan garis garis mimpi di wajahmu, lebih terlihat
jelas saat tanpa sadar kau berbalik ke arahku (aku senyum)
kau masih cantik seperti dulu saat pertama bertemu
sejenak mimpimu seolah kecewa menatap diriku
membuatku merasa salah mengumbar marah semalam
ach...bodohnya aku menyakiti cintaku
lalu kututup cerita luka malam kita dan kujemput kau dalam tidur
menemani senandung mimpi indahmu
kuharap cemas kau tak mengusir datangku
kita pun bersenggama di kemayaan cumbuku denganmu
belum puas aku menciumi dadamu yang penuh,
kau membangunkanku dengan bisikan nama Tuhan di telingaku
(aku tak bisa menahan diriku memelukmu)
sifatmu yang cepat memaafkanku buat subuh ini terasa hangat bagiku
serentak kebisuan tercipta
tinggal tatapku menelanjangi sinar matamu
di hati aku bicara: "makin dalamnya cintaku padamu"
sial! setiap mencinta kata kata selalu menjelma sirna
yogyakarta, 24.08.02
DARI BELAKANG JENDELA
malam hampir datang
hujan rintik masih rapi menggigilkan dinding kamarku sejak pagi tadi
kulihat tapak kaki ibu meninggalkan teras rumah
bekas kering air mata di pipinya bercampur titik gerimis petang itu
di bibir pintu ruang tamu ayah menundukkan kepala
dan aku menjagai hening di kamar sendiri
malam terenyuh, ibu makin jauh
kucuri bayangannya dengan bantuan angin duka mengumpulkan
tiap jejak langkah yang tersapu gelap
"agar ibu tak lupa jalan pulang", batinku
dalam ragu kututup daun jendela kamarku
Yogyakarta, 24.08.02
SAAT MERINDU 8
ingatkah kau pada sebutir benih mawar yang kau tanam di taman depan rumahku
dan kurawat dengan darahku menunggu tumbuhnya yang malu malu
semerbak wanginya harum seharum rambutmu yang tergerai menutupi pelupuk matamu
sayang kau tak tahu
tentang mahkotanya menyala jingga kala musim semi tiba
tentang barisan duri kecil melukai hatiku yang mengingat wajahmu tiap kupandang putih kuncup kembang baru
tentang cendawan satu satu yang membenciku tak memberi tempat disisi tangkai bawah bungamu
aku menjagainya agar sempat kau nikmati jua
bunga bunga cinta kita yang dicerabuti usia
Yogyakarta, 24.08.02
SAAT MERINDU 9
tak kubiarkan semak randu merambati pilar pilar cinta kita
atau lumutan menghijaukan dinding kesetiaan kita
hingga tiba waktunya
:saat kita saling dekap melunaskan dahaga persuaan
mengucap "selamat datang rindu"
Yogyakarta, 24.08.02
SEPASANG MATA DI ATAS NISAN
pandangan itu kuyu
menyembunyi rahsia
namun bertambah manis parasnya dari senyum yang tergantung setengah
pandangan itu sayu
mengusung tinggi doa doa
leleh rindu di dada merenungi dingin nisan kuburan kakak tercinta
kian melembab masa dari sepasang sembab matanya:
"ini lebaran ke empat kau tak merasakan ketupat
ibu bapa menyusulmu tahun lalu
suatu keyakinan bagiku, di langit kalian bersantap bersama
di sini aku cuma bisa menjemu
penembakmu tetap tak ketemu mungkin telah mati ditelan waktu
atau oleh sesaknya kasus baru
aku ingin mendatangimu saja!
berkumpul sekeluarga, rayakan lebaran tahun ini dalam berkelengkapan."
Yogyakarta, 24.08.02
(utk korban Trisakti'98)
4:11 AM S.N.
Mayasari H.
[+]
Thursday, January 09, 2003
DALAM DOA BUNDA (1)
kudengar namaku disebut di sana
berjumlah tak hingga
beserta derai air mata
ah, bunda, mengapa menangis untukku?
ini bukan yang terhitung lagi
entah telah berapa banyak tengadahan tanganmu pada-Nya
entah telah berapa banyak pintamu pada-Nya
aku cuma bisa turut mendengar lewat batasan gorden kamarmu
bergerak gerak dihembus bunyi nafasmu
lagi lagi kau sebut namaku
dengan nada lebih lembut dari semua permainan biola
atau sapaan ayah untukku tiap datang senja
:memanggil pulang
Yogyakarta, 22-23 agustus 02
DALAM DOA BUNDA (2)
kabari aku betapa dekatkah Kau pada bunda,
betapa dalamkah kasih Kau untuk bunda,
ya Tuhanku,
mungkin sama seperti cinta ayah kepadanya
selalu menggandeng hati
dan menidurkan segala gelisah milik bunda
hingga renta usia mereka lalu habis di makan ajal semesta.
atau Kau dan bunda saling mencinta?
kulihat ia begitu mesra membelai-Mu, sampai
kupikir semestinyalah ayah cemburu dan memburu-Mu
tapi semua bahagia,
yakinlah aku bahwa Kau juga mengenal ayahku.
namun seberapakah jarak-Mu pada bunda?
seerat urat nadi dan darah,
sang mata pada kedipannya, atau apa?
hingga tiap doanya Kau nyatakan dalam iya.
jawab aku Tuhan,
pagi ini,
kudengar lagi bunda menyebut namaku dalam sholat subuhnya.
Yogyakarta, 22-23 agustus 02
8:41 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
SAAT MERINDU 5
mari berenang bersamaku,
ke sana,
ke muara.
dan pandanglah ke utara,
sinar kecil mercusuar melukiskan lekuk tubuh dewi cinta,
jelang istana kita.
Yogyakarta, 210802
SAAT MERINDU 6
"maaf sayang, maafkan aku."
(kau tanya kenapa)
"aku ingin menukar cintamu dengan sekuntum kecupan di keningku......."
(kau tersenyum dan menciumku)
"hem......" aku nggumam
(kau tanya kenapa)
"maaf sayang, maafkan aku. aku belum selesai....."
(kau tersenyum dan menunggu)
"aku ingin menukar cintamu dengan sekuntum kecupan di keningku,
di pipiku, di bibirku, di hatiku, di kalbuku, di jiwaku, di aliran nafasku, di kedipan mataku, di......"
(kau meletak telunjukmu di bibirku seraya berkata: "mintalah izin pada Tuhanmu.")
"maaf sayang, maafkan aku. terlalu rindu padamu."
Yogyakarta, 210802
SAAT MERINDU 7
banyak kata yang kubunuh dalam menanti kembalimu di sisiku :
bosan, letih, jenuh, lelah, hampa, sepi, sunyi, kosong, bisu, jarak, waktu,
duka, tangis, sedih, air mata, putus asa, lara, takut, pisah, ragu, jauh, hilang
lama lama aku mulai mengutuki kata rindu, bayangmu, mimpi, angan, bahkan namamu
cintaku tak tahu malu! nyemburat gusar sekujur jiwaku
mengacaukan pikiranku, rusak tak tentu
sayang, tetaplah di situ dulu! aku mau menyisir kalimat hatiku.
(kuharap kau tak tahu yang terjadi padaku)
Yogyakarta, 210802
TANGIS TUHAN
Setiap aku lupa tunaikan shalat yang lima
Setiap rak bukuku berdebu dan Quran terselip di antaranya
Setiap aku makin jauh berjalan tanpa cahaya
Setiap tubuhku menggemuk akan nafsu dunia
Dan aku masih nyaring tertawa
Kurasa ada isak tangis di dada,
Nyesak
Bahkan dalam pergulatan semburat dosa-dosa
Tuhanku, Kaukah yang menangis?
Jawablah!
Aku sudah buta mata telinga. yang ada:
Dadaku banjir air mata
Yogyakarta, 13 Agustus 2002
8:36 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
TITIK JENUH
Terlalu banyak hujan menciptakan tangisan, laut menenggelamkan harapan, langit menyembunyikan jawaban, tanah menelan jiwa jiwa kesayangan, kota menebarkan kenangan, hari melahirkan kesedihan, cinta menikam hati insan
Dan hujan badai, laut cabuh, langit retak, tanah pecah, kota merah darah, hari mati, cinta menggila
Biar aku hentikan hujan, kugulung lautan, kuturunkan langit, kupendam tanah, kuhancurkan kota, kububarkan hari, kubunuh cinta
Tuhan,
maafkan aku
menjenuhi bumi-Mu
maka kuserahkan nyawaku!
Yogyakarta, 200802
SAAT MERINDU 2
riak gelombang arus laut cinta di dadaku meronta cabuh tanpa peduli aku
yang makin merana nahan gejolak sisi hati yang lebih memilih pecah berserak
asal dapat ia menemuimu saat ini jua. aku tersiksa. ingin kuambil cawan cintaku
untuk kulemparkan sejenak sekedar mengeringkan luka rindu yang meradang nian.
ah, bukan pula belatung dan lalat yang merubung muncratan darahku, tapi hangat
sayap cinta kupu kupu petang hari musim semi menempel mesra dengan
pelukannya yang selembut kasih ibu menghiburku dalam tariannya yang merayu
mata para kumbang pejantan. lalu di tiap sayapnya kuukirkan namamu.
yk,180802
SAAT MERINDU 3
lihat kilatan cahaya mendesis di atas pasir coklat kotamu,
aku mengurung diri di dalamnya,
lihat pelangi yang sangat jarang sekali di langit kotamu,
aku menari di licinan tubuhnya,
dan dengarlah lantang kumandang adzan subuh hari dari balik kantuk tidurmu,
aku di bawah atap Quran membangunkanmu,
Tuhan mengantarkanku temuimu,
"kau cintaku" alasanku pada-Nya, tapi Ia setuju
"demi cinta yang suci" kata-Nya
sayang,
lihat! Tuhan menggandeng tanganku, menyatukannya dengan jemarimu
kita selalu bertemu, jangan ragu.
(di sini aku terus memandang potretmu yang tersenyum seraya mengedipkan matamu)
Yogyakarta, 200802
SAAT MERINDU 4
jangan tanya lagi!
bahasa puitis telah basi!
tak sanggup menanggung rindu dan cintaku
terbatalah kata kataku!
mati sajak sajakku!
(suratmu datang lagi. masih lahirkan tanya sewarna: "kau serius padaku?")
sementara aku sibuk mengejut jantung sendiri untuk menunda pergi demi memberimu sisa jawaban yang telah berjamur hari hari
jangan tanya lagi!
aku rindu sekali!
yogyakarta, 210802
8:10 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
HAPPY BIRTHDAY, MOM
(nyambut ultah RI 170802)
dia datang lagi
dengan wajah tirus dan tubuh yang cekung
"mari ibu. kita rayakan hari lahirmu."
kau malah termangu
matamu kuyup natap kue-kue kebusukan di meja
lilin-lilin kecil meneteskan darah
ratusan pita berukir namamu kupajang ditiap sisi rumah,
tak mampu membeli sebutir senyummu
kau memandangku
melemparkan kilatan jarum-jarum pertanyaan
aku malu
"maafkan anakmu, Bu."
Yogyakarta,14 Agustus 2002
KEMISKINAN
ibuku becerita padaku,
kala kubilang aku telah lelah dengan sajian kemiskinan :
seorang anak kota dengan pakaian merah nyala
tubuh sintalnya menggoda tiap mata
kekurangan baginya tak pernah ada
saat ditanya siapa ayahnya, dimana ibunya, berapa saudaranya
dia tertawa menjawab tak kenal
saat Quran dihadapkan padanya, dia cuma terpaku
'ndadak lidahnya kaku-mungkin malu mungkin haru-
aku syahdu
merenung sejuk kalimat ibuku
aliran cinta tak berputusan
buat miskinku 'njelma berada-bahagia-
Yogyakarta,14 Agustus 2002
MOMOK TELEVISI
seputaran hari kau berteriak-teriak tak henti
hingga kubunuh kicau burung, memilihmu jadi nyanyian pagi
kau perbudak aku, bersujud padamu
lupa makan, lupa menulis, lupa mengaji, lupa membasuh hati
radang mataku tak buat beranjak pergi
malah bertumpuk kawan di sisi
Yogyakarta,14 Agustus 2002
SAAT MERINDU
maka tertekan tekanlah hatiku. ranjau kasih
dipijakkan di dada. nyemburat perciknya ragu ragu.
kata kata seangan melagu malu. maju mundur
cintaku. makin dalam. rindu meronta ingin tertuangkan.
aku terdiam cuma. di benak lahir beberapa nama.
Yogyakarta, 150802
JARAK
(buat Drs.SBS)
asaku luntur
dewasaku tak kan mampu mengejar laju usiamu, katamu
tapi kau ucapkan cinta itu untukku
(mungkin benar cinta bukan mesti bersatu)
saat kubilang "aku sayang kamu"
kau tertawa dan meninggalkanku
"dituntut waktu" alasanmu
sejak itu kita tak sekali lagi bertemu
Yogyakarta, 150802
SAYANG
(buat Drs. SBS)
sayang,
kalau saja jarum waktu dapat berbalik putar
kau dan aku menukar cinta yang pijar
akan kutahan gerak masa kala itu
untuk lebih gigih yakinkanmu atas kataku
"aku mencintaimu"
sayang,
mungkin salah malam yang terlampau kelam
atau sederetan suara jangkrik mengepung saat duduk berdua
hingga tak ada kata kata keluar dari mulut kita
riak hati dirasa terwakili oleh gemerlap bintang bintang angkasa
sementara ketegasan makin samar menyiluet
dalam kalbu aku berteriak sendiri
"aku mencintaimu"
sayang,
ingin merayumu nerabas rintangan cinta ini
tapi kau kian bisu menjalari waktu yang berlari
kasih kita terartikan oleh sunyi yang keseringan
galau aku! kau guratkan bulir bulir ragu di wajahmu
"kita susah menyatu" katamu tiba tiba
dan aku makin nekad menguatkanmu seraya berkata
"aku mencintaimu"
(waktu itu kau tersenyum dan berterima kasih atas cinta manisku.
langkahmu gelisah menyeret satu dua air bening di pelupuk matamu)
Yogyakarta, 170802
7:34 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
IMPIAN
seperti kapar pesiar yang gemerlap di tengah malam gelap
lampaulah waktu di perjalanan
tapi aku ingin bersandar kali ini
hentikan gerakan lincah renang dan loncatanku
dari laut satu ke satu
bersandar untuk rasakan kerling tulus cintamu
di pelabuhan hatimu
di lautmu
beri aku waktu!
yogyakarta, 27 juli 2002
DEMI
demi matamu yang bicarakan rahasia, demi
satuan jumlah tiupan angan darimu kukejar semua
kota yang kau datangi sebelum ini. untuk kupelajari
tualangan cintamu.
demi pantai malang dan air terjun yang menunggu,
kubuang segala pesona wajah manca negara. untuk
kuhampiri janjimu bersatu denganku.
demi diammu, kuhargai bisumu mengatakan cinta padaku.
demi kedekatan lalu, demi terjemahan kenangan asmara dulu,
kurelakan hatiku lantak menanti nanti kepastian darimu.
demi indah matamu pun santun lakumu, sumpahku ngalir
akan kesetiaanku. demi jarak pisahan kita, makin misteri
dirimu kurasakan.
demi aku (katamu), kau harus berlalu. demi cinta, selalu kuminta
alasanmu yang tak sekali kau beritahu. lalu kau bilang aku masih
anak anak. demi kedewasaan usia milikmu, kuhaturkan
terima kasihku yang kecut. demi anggapanmu atas cinta
kanak kanakku kubunuh dirimu dalam kalbuku dengan panah
tajam rusukku.
(terakhir kudengar kau menghilang dariku demi keinginan ibumu)
Yogyakarta, 27 juli 2002
UNTUK MENGENANG TRAGEDI 13-14-15 MEI 1998
(kutulis untuk para korban kasus trisakti-pahlawan reformasi-)
aku harus apa?
suara peluru panas jakarta terasa sampai ke desa
lalu kakakku dikabarkan tergelepar di jalan
"mas, kau lupa 13 mei hari ulang tahunku..."
kurayakan kembang usiaku di makammu
lalu berita TV penuh gambar dirimu dan kawanmu
aku marah dalam galau
tayangan wartawan hari hari kian sarat darah
alhamdulillah
masih kujumpa kumandang adzan disela siaran maghrib televisi
"maafkan aku mas. sampai kini belum kutemu pembunuhmu"
Yogyakarta, 27 juli 2002
AKU RINDU
aku rindu
jalanan riuh surabaya yang meras peluh ayahku
megah supermarket membocorkan tabungan ibuku
dan teman kecilku yang ditenggelamkan waktu
Yogyakarta, 29 juli 2002
GELISAH
dengan pakaian asap kendaraan yang menjadi udara nafasku
hari hari ini lebih terasa berat
mengadu ke langit pun tak mungkin
sebab bumi pada kita dititipkan
tinggal kusut dan pucatlah wajah wajah insan
burung burung penerbang meniupkan sejuknya awan
nukik jatuh kelelahan tersedak kepulan pabrik pekat
dimana lagi pengharapan melekat
dan penghuni laut ukurlah kedalaman rumahmu
katanya di dasaran kasih Tuhan bersemayam
temui dan adukan tiap keluhku
kutunggu tunggu
kabarnya kau tersesat di licinnya zat kimia peradaban
dengan pakaian guruh mesin yang menjadi penggerak kaki tanganku
dunia kian jauh dari arti hidup
teroboslah tanah hai akar akar tumbuhan
hampiri malaikat dan catat pertanyaan mereka yang kelak harus kujawab
kunanti nanti hingga datang suara:
"kenapa kau tak merunduk saja. dengan pakaian religi ngejar Ilahi"
malang 24 juni 2002
7:24 PM S.N.
Mayasari H.
[+]
|
|
 |
 |
2003 © S.N. Mayasari H.
Tidak dianjurkan mencuri tulisan-tulisan di situs ini. Ada cara yang lebih
terhormat untuk menunjukkan apresiasi Anda: hubungi mayalaw13@yahoo.com
|